Kamis, 19 Maret 2015

METODE ISTIMBAT MADZHAB JA’FARI



Disusun Oleh:
1.  Silmi Fitrotunnisa   (14360023)
2.  Masudin Abdullah  (14360024)
3.  M. Siddik Malawat (14360026)
4.  Ahmad Fauzi          (14360027)
5.  Sudarti                    (14360028)
JURUSAN PERBANDINGAN MADZHAB
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2014



       I.            PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Syiah secara bahasa bermakna golongan, firqoh, jama’ah atau pengikut. Secara istilah syiah adalah golongan terbesar kedua setelah sunni. Golongan ini disebut juga pengikut atau pendukung Ali bin Abi Thalib, khalifah ke empat islam. Pecahan aliran syiah timbul stelah terjadinya perbedaan dalam masalah penerus kepemimpinan setelah wafatnya nabi. Namun pada perkembangan berikutnya, perbedaaan ini semakin melebar dan meliputi ideology dan hokum fikih, dengan tidak mengakui pada tiga kholifah pertama islam yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Maka mereka juga tidak mengakui hadits-hadit yang berasal dari mereka dan pendukungnya.

Cirri khas aliran syiah
Cirri khas atau factor utama dari aliran syiah dapat disimpulkan pada point-point berikut,
1.      Penerus Nabi yang sebenarnya adalah keturunan Nabi, yaitu Ali bin Abi Thalib dan diteruskan oleh putranya yaitu Hasan bin Ali.
2.      Mereka tidak percaya pada kepemimpinan khulafaur rasyidin selain Ali.
3.      Mereka juga berpegang teguh pada Al Qur’an sama dengan sunni, tapi penafsiran dari Al Qur’an itu sendiri diserahkan bulat-bulat pada ulama-ulama atau imam mereka.
4.      Doktrin imamah.
5.      Ulama syiah dianggap pengganti nabi.

B.     Rumusan masalah
1.      Bagaimana riwayat hidup Imam Ja’far Ash-Shodiq ?
2.      Apa saja karya-karya Imam Ja’far Ash-Shodiq ?
3.      Siapa saja guru-guru Imam Ja’far Ash-Shodiq ?
4.      Siapa saja murid-murid Imam Ja’far Ash-Shodiq ?
5.      Apa kelebihan yang terdapat dalam madzhab Ja’fariyyah ?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui riwayat hidup Imam Ja’far Ash-Shodiq
2.      Mengetahui karya-karya Imam Ja’far Ash-Shodiq
3.      Mengetahui guru-guru Imam Ja’far Ash-Shodiq
4.      Mengetahui murid-murid Imam Ja’far Ash-Shodiq
5.      Mengetahui Apa kelebihan yang terdapat dalam madzhab Ja’fariyyah



    II.            BIOGRAFI IMAM MADZHAB
A.    Riwayat Hidup
Ja’far Ash-Shadiq adalah Ja’far bin Muhammad Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Muhammad saw. Beliau dilahirkan pada tanggal 20 H (699 M). ibunya bernama Ummu Farwah binti Al-Qasin bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pada beliaulah terdapat perpaduan darah Nabi saw. dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Ja’far Ash-Shodiq adalah seorang yang perwakannya, dan berkulit putih bersih. Dari segi budi pekerti, jiwa dan akal ia memperoleh curahan dari langit. Ia adalah seorang yang ikhlas dalam segala perbuatannya.
Ja’far Ash-Shodiq adalah seorang yang tepat firasatnya. Mungkin karena firasatnya yang kuat maka ia tidak mau mencampuri urusan politik dan tidak mau menuruti ajakan para pengagumnya.
Firasat adalah saah satu sifat yang perlu dimiliki ahli fiqh, ahli madzhab. Dengan firasat dapat diketahui keburukan-keburukan orang yang dihadapi. Ja’far Ash-Shodiq memperoleh pula sifat kehebatan. Allah telah melimpahkan kepadanya kehebatan. Kehebatan dalam dunia ilmu menyebabkan lawan-lawannya menundukkan kepala.
Beliau berguru langsung dengan ayahnya Muhammad Al-Baqir di sekolah ayahnya, yang melahirkan tokoh-tokoh ulama besar islam. Ja’far Ash-Shadiq adalah seorang ulama besar dalam beberapa bidang ilmu seperti ilmu filsafat, tasawuf, fiqh, kimia, dan ilmu kedokteran. Beliau adalah imam keenam dari 12 imam dalam madzhab syi’ah Imamiyah. Dikalangan kaum sufi beliau adalah guru dan syeikh yang besar dan dikalangan ilmiah beliau dianggap sebagai pelopor ilmu kimia. Diantaranya beiau menjadi guru Jabir bin Hayyam dalam ahli kimia dan kedokteran islam. Dalam madzhab syi’ah, fiqh ja’fariyyah sebagai fiqh mereka, karena sebelum Ja’far Ash-Shadiq dan masanya tidak ada perselisihan, perselisihan dan perbedaan pendapat baru muncul pada masa beliau.
Ahli sunnah berpendapat bahwa Ja’far Ash-Shodiq adalah seorang mujtahid dalam ilmu fiqh, yang mana beliau sudah mencapai tingkat laduni, beliau dianggap sebagai sufi ahli sunnah dikalangan syeikh-syeikh mereka yang besar, padanyalah tempat puncak pengetahuan dan darah Nabi saw. yang suci.
Syahrastani mengatakan bahwa Ja’far Ash-Shodiq adalah seseorang yang berpengetahuan luas dalam agama, mempunyai budi pekerti yang sempurna serta sangat bijaksana dari keduniaan jauh dari segala hawa nafsu.
Imam Abu Hanifah berkata, “Saya tidak dapati orang lebih faqih dari Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad”.
George Zaidan berkata, “Diantara muridnya adalah Abu Hanifah (w.150 H/767 M), Malik bin Anas (w.179 H/795 M), dan Wasil bin Atha’ (w.181 H/797 M)”. Abu Nu’aim mengatakan bahwa, “Diantara murid beliau juga ialah Muslim bin Hajjah, perawi hadist shahih yang masyhur”. Riwayat yang lain mengatakan bahwa di Kuffah, sedikitnya ada 900 orang syeikh yang belajar dengan beliau di masjid Kuffah.
Abu Zuhroh berkata, “Ja’far Ash-Shodiq berpandukan kitab Allah (Al-Qur’an) serta pandangan beliau sangat jelas, beliau mengeuarkan hukum-hukum fiqh dari nash-nashnya, beliau benpandukan kepada sunnah, sesungguhnya beliau tidak mengambil melainkan  hadist riwayat ahlil bait (keluarga Nabi)”.[1]
Ja’far Ash-Shodiq meperoleh ilmunya  dengan cara belajar pada para ulama terkemuka. Kemudian Allah membuka pintu ma’rifat kepadanya lanteran kejernihan jiwanya serta menghadapi ilmu dengan seluruh perhatiannya.

B.     Karya-karya Imam Ja’far Ash-Shodiq
Ulama syi’ah mempunyai ulama-ulama besar yang menulis fiqh dan ushulnya. Yang paling menonjol diantara mereka ialah Abu Ja’far Muhammad Ibn Al-Hasan Ibn Aly AthnThusy, wafat pada tahun 466 H. beliau adalah seoarang murid al-Murtadla.
Diantara kitabnya ialah Al-Masbuth dalam bidang fiqh, kitab al khilaf , kitab An-Nihsyah yang memperkatakan segala macam bab fiqh.
Diantara kitab ushulnya ialah Al Uddah. Di dalamnya diterangkan minhaj yang ditempuh golongan syi’ah.
Ada juga Muhammad ibn ‘Aly Ar-Razy pengarang kitab Al-Mashadir fie Ushulil Fiqh, At-Tanqieh ‘anit Tahsieni wat Taqbieh.[2]
C.     Guru-guru Imam Ja’far Ash-Shodiq
Walaupun orang-orang Imamiyah mengasumsi bahwa ilmu yang diperoleh Ja’far Ash-Shodiq merupakan ilham semata tanpa adanya guru yang mengajarinya, tetapi kenyataan sejarah membuktikan kekeliruan anggapan itu. Guru-guru yang utama ialah :
1.      Ali Zainul Abidin yang sekaligus merupakan kakeknya menjadi orang yang pertama kali menjadi guru sang Imam Ja’far Ash-Shodiq. Zainul Abidin wafat saat Ja’far Ash-Shodiq burumur 14 tahun. Ia mendapat ilmu dari para ahlul bait dan para tabi’in.
2.      Muhammad al-Baqir, ayahanda Ja’far Ash-Shodiq yang sekaligus menjadi seorang imam, guru Abu Hanifah dan guru Zain bin Zainul Abidin, yang selalu mengadakan hubungan ilmiah dengan ulama-ulama madinah.
3.      Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar (ayah ibunya). Al-Qasim merupakan seorang mujtahid yang mempunyai pendapat sendiri. Wafat pada tahun108 saat Ja’far Ash-Shodiq berumur 28 tahun.
D.    Murid-murid Imam Ja’far Ash-Shodiq
Sebagai seorang pendiri madzhab imam Ja’far Ash-Shodiq tentunya memiliki murid-murid yang menjadi tokoh besar setelah wafatnya imam Ja’far Ash-Shodiq. Berikut ini kami sampaikan beberapa nama murid-murid beliau yang kami kutip dari buku Perbandingan Madzhab Syi’ah karya Abu Bakar Aceh , diantaranya :
1.       Abu Hanifah
Yang lahir di tahun 80H dan meninggal pada tahun 150H, juga seorang murid yang dicintainya kemudian menjadi imam madzhab hanafi. Banyak sekali orang yang mengambil riwayat darinya dan dia sendiri mngambil banyak ilmu dari Ja’far Ash-Shodiq. Abu Hanifah mengatakan, “Jika tidak 2 tahun bersama Ja’far Ash-Shodiq akan binasalah Nu’man, aku belum pernah melihat seseorang yang lebih ahli dalam bidang ilmu fiqh dari pada Ja’far Ash-Shodiq”.
2.      Sufyan bin Sa’id bin Masruq as-Sauri
Berasal dari Kuffah. Mempunyai madzhab tersendiri, diantara pengikutnya Muhammad bin Ajlan, Auzai, Ummat bin Salmah, Yahya bin Said al-Qattan, Futhail bin Iyyadh. Ia banyak sekali mengambil dari Ja’far Ash-Shodiq ilmu-ilmu terutama mengenai adab, akhlak, dan pelajaran-pelajaran lain.
3.      Sufyan bin Uyainah bin  Abi Imron
Meninggal pada tahun 198 H. banyak orang meriwayatkan dari padanya contohnya seperti, A’masy, Asyani, Humam, Yahya bin Said, Asy-Syafi’I, dan Ibnu Madini. Asy-Syafi’I berkata,”Jika tidak ada Malik dan Sufyan akan lenyaplah ilmu di Hijaz”.
4.      Syu’bah bin al-Hajjaj
Dilahirkan tahun 80 H wafat 160 H. diantara pengikutnya yang terkenal ialah Ayyub dan Ibnu Mubarok
5.      Fudhil bin Iyaj at-Tamimi
Wafat tahun 197 H. al-Jazari mengatakn, “Bahwa ia adalah seorang imam sunnah yang baik. Nasa’I, Bukhori, Turmudzi, Muslim, dll banyak mengambil hadist dari padanya”.
6.      Hatim bin Ismail
Wafat tahun 180 H berasa dari Kuffah adalah tempat Bukhori, Muslim, dan imam at-Turmudzi mengambil hadistnya yang dipelajari dari Ja’far Ash-Shodiq.
7.       Haffas bin Giyas al-Kahfi
Banyak pengikutnya diantara lain Ahmad, Isaq, Abu Nu’aim, Yahya bin Mu’in, dll. Ulama besar yang pernah menjadi qadhi di Baghdad dan Kuffah. Penghfal hadist yang banyak yang pernah ditulis dari padanya lebih dari 4000 buah.
8.      Zubair ibnu Muhammad at-Tamimi
Bergelar Abu Mundzir, berasal dari Khurosan meninggal tahun 162 H. beliau menerima banyak ilmu dari imam Ja’far Ash-Shodiq, dan oleh karena itu banyak yang meriwayatkan kembali dari padanya diantaranya, Abu Daud at-tiyalisi, Ruh bin Ubaddah, Abu Amir al-Aqli, Abdurrahman bin Mahdi, al-Waid bin Muslim, dll.




 III.            KELEBIHAN MADZHABNYA
Ulama-ulama Syiah Imamiyah atau Ja’fariyaah atau Itsna Asy-‘Ariyyah mempunyai manhaj sendiri tidak mengekor kepada manhaj jumhur bahkan mereka mengatakan bahwa Muhammad a-Baqir lah yang mula-mula mentadwinkan ushul fiqh bukan asy-Syafi’i[3]. Permualan ulama yang menyusun kitab ushul dalam kalangan mereka adalah dari ulama kalam syeikh Mutakallimin telah menyusun sebuah kitab yaitu al-alfadh wa ma’fiyah. Yunus Ibn Abdurrahman menyusun kitab Ikhtilaful Hadist[4]. Kedua ulama ini adalah ulama abad kedua hijriah semasa dengan Abu Hanifah.
Ushul fiqh dalam abad kedua dibuat untuk menjadi dasar istimbat bukan dibuat untuk mempertahankan furu’-furu’ yang telah ada sebelumnya. Usaha membela furu’ timbul sesudah timbul perdebatan (jiddah) antara madzhab pada akhir abad ketiga awal abad keempat antara uama-ulama madzhab.
Kebanyakan penulis ushul dalam kalangan syiah adalah dari golongan mutakallimin yakni para ahli dalam ilmu kalam. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan kebanyakan fuqaha jumhur, yakni jalan Asy-Syafi’I yang terkenal dengan nama Thariqatul Mutakallimin[5], alhasil walaupun mereka membuat ushul untuk menghasilkan furu’ namun mereka pada garis besarnya dipengaruhi oleh furu’, dengan demikian dapatlah kita menetapkan bahwa ushul fiqh syiah menempuh jalan Syafi’iyyah dan jalan Hanafiyyah. Diantara yang nampak pula bagi kita ialah bahwa di dalam abad ketiga hijriah banyak ulama yang juga menolak qiyas, di samping ulama syiah seperti Daud ibn Ali karena para ulama telah menghadapi hadist dan atsar dengan sempurna lantaran telah dibukukan. Hampir semua buku dapat ditemukan dalam hadits Rasululah, fatwa sahabat,  fiqhut tabin, walaupun mereka tidak tegas-tegas menolak qiyas syiah imam dalam kedudukan rasul tidak memerlukan qiyas. Imam mereka yang terakhir meninggal pada tahun 261 H karena itu mereka tidak memerlukan qiyas .
Pada abad IV H syiah mengalami kemajuan yang pesat disebabkan oleh kepergian imam dan menghilangnya imam sehingga mereka terpaksa membuat qaidah-qaidah istimbat dan neraca-neraca pertimbangan, agar mereka mempunyai pelita dalam menempuh jalan ijtihad. Dan menurut mereka pintu ijtihad tidak pernah tertutup.[6]
Ada tiga hal yang dapat kita tanggapi dari perkembangan ushul fiqh dalam kalangan syiah[7] :
1.      Ilmu ushul sangat subur tumbuhnya dikalangan mereka. Kebanyakan ahli-ahli ushul mereka adalah ulama-ulama kalam yang mempertemukan antara dirasah nadhariyah dengan dirasah fiqhiyyah, karena mereka mempunyai dasar dan mempunyai alat pembela madzhab
2.      Mereka menjalani jalan yang ditempuh umum ulama kalam.
3.      Di antara mereka ada yang mempunyai kecakapan dalam bidang fiqh dan ushul, seperti : Ath-Thusy. Ath-Thusy mempunyai keahlian pula dalam bidang ilmu tafsir dan ilmu kalam.
Kedudukan al-kitab dan as-sunnah dalam madzhab Ja’fari yang pertama yaitu Al-Qur’an, yang perlu ditanggapi adalah dari pendapat  Ja’far Ash-Shodiq bahwa, “ al-Qur’an adalah kitab yang mencakup segala hokum, sedang as-sunnah tidak mendatangkan sesuatu yang baru. As-sunnah tidak diterima dan diamalkan sebelum dirujuk kepada al-Qur’an”. Dalam kitab syi’ah Al-qur’n adalah Kulliyatusy Syari’ah sedang as-sunnah adalah masdar yang kedua yang berdiri sendiri, walaupun dia memperoleh kekuatannya dari al-kitab. Pandangan yang kedua inilah yang kita anggap lebih benar.[8] Allah berfirman:
 شيء لكل تبينا ب الكتاعليكلناونز
Artinya: “Dan Kami telah menurunkan al-Kitab kepada engkau untuk menjadi penjelasan bagi segala sesuatu.”[9]
1.      Ulumul Qur’an
Diantara ulumul qur’an yang harus dipelajari syi’ah ialah Ilmun Nasikh wal Mansukh, ‘am dan Khas, Uslubul Bayaanil ‘Araby.
      Mereka berpendapat al-Qur’an mempunyai bathin dan zahir. Manusia biasa hanya mengetahui zahirnya saja. Sedang yang bathin hanya diketahui para imam.
2.      Penafsiran al-Qur’an dengan ar-Ra’yu
3.      Pendapat syia’ah Imamiyah terhadap isi al-Qur’an
Ada tuduhan-tuduhan yang menyebut isi al-Qur’an ada yang ditambah dan ada yang dibuang atau dikurangi dari aslinya.
4.      ‘Am dan Khash menurut ulama Syi’ah
Ja’far Ash-Shodiq mengharuskan ulama mengetahui dengan  baik perbedaan ‘am dank hash : tentang ‘am yang dimaksudkan dengan  khash dan khash yang dimaksudkan dengan ‘am.
Hakikat ‘am menurut syi’ah : Lafal yang mencakup semua pengertian yang dapat dicakupnya sejak dari semula dibuat lafal itu.
Hakikat khash menurut syi’ah : Lafal yang menunjuk kepada suatu makna.
5.      Qiyas dan ‘Am
Golongan syi’ah tidak memandang qiyas sebagai dasar.
6.      Ta’arudlul ‘aam alal khash
7.      Penjelasan al-Qur’an
Ja’far Ash-Shodiq berkata, “Tidak ada sesuatu pun dari urusan syari’at, melainkan ada di dalam al-Qur’an.
Syi’ah yang membolehkan ijtihad sesudah tidak ada lagi imam, atau sesudah imam yang ke-12 pergi, menetapkan bahwa ushul fiqh hanyalah ada empat : al-Qur’an, as-Sunnah, al-Ijma’, dan al-Aql.
Di dalam al-musnad, kitab yang mengumpulkan keempat-empat hadits golongan Imamiyah, ditegaskan bahwa Ja’far Ash-Shodiq memakai dasar ijma’.
Golongan Ja’fari terbagi atas dua golongan.[10]
1.      Golongan yang tidak mau berijtihad, mencukupi dengan nash-nash yang diterima dari para imam. Mereka dinamakan Waqifiyyah.
2.      Golongan Ushuliyyah. Golongan ini mengatakan bahwa Ushulut Tasyri, ialah : al-Kitab dan as-Sunnah. Seudah la a’ dalam masalah selain dari yang telah diketahui dengan mudah. Sesudahnya hokum aql.
Akal merupakan kedudukan dalam pandangan Ja’fari. Segala yang diperintah akal harus dikerjakan. Segaa yang dilarang akal harus ditinggalkan.
Golongan Ja’fari mempergunakan akal :
1.      Untuk mengetahui mana yang bagus dan mana yang buruk. Yang baik dituntut syara’, yang buruk dilarang syara’.
2.      Untuk mentakhrijkan hokum dari kitabullah, as-Sunnah dari ijma’. Ke dalam ini masuk sebagian qiyas.
Istishhab menurut golongan Ja’fari ialah : terus menerus tetapnya sesuatu hokum , atau sesuatu sifat yang telah ada di masa yang telah lalu, di masa yang sedang dilalui.[11]
Golongan Ja’fari yang menutup pintu qiyas, menggunakan mashlahah, banyak menggunakan istishhab.[12]
Madzhab Ja’fari adalah madzhab yang besar, baik ditinjau dari segi ahlus sunnah. Fiqh mereka adalah kumpulan pendapat imam 12.[13]
Mujtahid dalam imamiyah terbagi menjadi empat : Mujtahid mutlak mujtahil fil furu’. Berijtihad dengan dasar mengikuti imam dalam masalah ushul. Mujtahid mukharrij. Mengeluarkan ilat-iat hokum dan mengqiyaskan sesuatu serta mendatangkan dalil bagi hokum-hukum yang terbentuk daam maadzhab. Mukharrij, yaitu mereka yang menerapkan kaidah –kaidah madzhab atas kejadian-kejadian yang tumbuh dalam masyarakat.[14]
Madzhab Ja’fari adalah madzhab yang berkembang subur, Karena dia membuka pintu studi bagi segala kemuskilan yang tumbuh, baik daam bidang kemasyarakatan, maupun dalam bidang ekonomi dan falsafah. Dalam madzhab Ja’fari banyak pendapat yang telah tumbuh. Dengan demikian mudahlah kita untuk memilih salah satu pendapat untuk diterapkan di masyarakat.
Madzhab Ja’fari berkembang di Iran (Persia dan Khurasan), di Irak yang berpusat di Karbala, dan daerah-daerah sebelah timurnya, di India, Pakistan, Nigeria, Shamalia, dan beberapa daerah lain.[15]




 IV.            PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari ungkapan-ungkapan sejarah hidup Ja’far Ash-Shodiq dapatlah disimpulkan bahwasanya:
1.      Member perhatiannya kepada ilmu ulama-ulama Madinah dan ilmu ulama-ulama Irak, tidak hanya kepada ilmu keluarga Rasul saja.
2.      Seorang mujtahid mustaqil yang mempunyai manhaj sendiri karenanya kadang-kadang Ja’far Ash-Shodiq menyetujui pendirian ulama Madinah  dan kadang-kadang menyetujui pendirian ulama Irak
3.      Memberikan perhatian yang penuh kepada pendapat-pendapat para fuqaha. Hal ini membuka pintu fiqh yang luas. Memang dengan kita mengetahui perbedaan-perbedaan pendapat para fuqaha, dalil mereka masing-masing dan manhaj istimbat mereka, sampailah kita kepada pendapat yang paling baik dan kuat.
Golongan Ja’fari membagi pemahaman al-Qur’an menjadi 4 martabat.
Pertama     : Fahmul ‘Ibaarah (pemahaman umum)
Kedua       : Fahmul Isyaarah dan maksud lafal yang mendalam. Pemahaman ini untuk para ulama yang mendalam ilmunya.
Ketiga       : Fahmul Lathifah ‘Ibarah (pengertian yang halus, yang berada di belakang lafal). Pemahama ini hanya dicapai oleh para wali.
Keempat   : Fahmul Haqaaiq dan apa yang sebenarnya dikehendaki Allah. Pemahaman ini hanya dicapai oleh para Aushiyya’(para imam)
Syi’ah ja’fari berpendapat bahwa khash yang dating bersama-sama ‘am, dipandang mukhashish bagi ‘am jika keduanya sama keadaannya, sama-sama qath’y, atau sama-sam dhanny.
Golongan Ja’fari tidak menerima pendapat para sahabat, maka tidak memasukkannya ke dalam bidang sunnah, walaupun Ja’far Ash-Shodiq sendiri mengamalkan pendapat Umar.
Akal dalam madzhab Ja’fari  mempunyai dua martabat:
1.      Akal guna menghadapi qadliyah-qadliyah yang harus diyakini seperti tentang ma’rifat kepada Allah dan tentang Nubuwwah.
Hokum akal dalam masalah-masalah ini adalah khithab. Akallah yang menjadi dasar bagi taklif.
2.      Akal untuk menghadapi hokum terhadap masalah-masalah yang tidak diperoleh nash atau ijma’.
B.     Saran
Mempelajari ilmu perbandingan madzhab sangatlah penting, guna mengetahui kelebihan dan kekurangan dari tiap-tiap madzhab yang ada, dan mencegah taqlid buta serta mencegah perbuatan mengkafirkan orang lain yang berbeda madzhab orang lain. Karen sudah jelas bahwa hokum bermadzhab adalah mubah.
Kami berharap tulisan kami dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya mahasiswa jurusan perbandingan madzhab.
Kami sadar dalam membuat makalah ini terdapat kesalahan dan kekurangan, maka dari itu kami sangat menerima krtik dan masukan dari para pembaca sekalian.
Terakhir kami ucapkan terimakasih dan mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan yang terdapat dalam makalah yang kami buat ini.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Tafsir Perkata Tajwid Kode Angka, Banten : Kalim,
Ash Shiddiqie, TM. Hasbi, Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1997.
Ash Shiddiqie, TM. Hasbi, Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab Dalam Membina Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
Aceh, H. Abubakar, Perbandingan Madzhab Syi’ah Nasionalisme Dalam Islam, Semarang: Ramadhani, 1980.
Jawad Mughniyah, Muhammad, Fiqih Lima Madzhab, Jakarta: Lentera.




[1] Muhammad Jawad mughniyah, Fiqh Lima MAdzhab, lentera, hal xxiii.
[2] TM Hasbi Asy-Shiddiqie, Poko-Pokok Pegangan Imam Madzhab dalam membina Hukum Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1973, hal 30.
[3] Ibid hal 26.
[4] Ibid.
[5] Ibid hal 28.
[6] Ibid hal 29.
[7] Ibid hal 30.
[8] TM Hasbi Asy-Shiddiqie, Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab, Semarang : PT Pustaka Riski Putra, 1997, hal 32.
[9] An-Nahl (16): 5.
[10] TM Hasbi Asy-Shiddiqie, Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab, Semarang : PT Pustaka Riski Putra, 1997, hal 58
[11] Ibid hal 62.
[12] Ibid hal 63.
[13]Ibid hal 410.
[14] Ibid hal 411.
[15] Ibid hal 412.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar