Kamis, 30 April 2015

Adigang adigung adiguna (Filosofi jawa)





                Ungkapan adigang adigung adiguna sangat populer dalam masyarakat jawa. Ungkapan ini berisi nasehat agar seseorang tidak berwatak angkuh atau sombong sebagaimana watak binatang yang tersirat dalam ungkapan ini. Adigang adalah gambaran watak kijang yang menyombongkan kecepatan atau kekuatan larinya. Adigung menggambarkan watak kesombongan binatang gajah yang karena besar tubuhnya selalu merasa menang di bandingkan hewan lainnya. Adigung sebagai gambaran watak ular yang menyombongkan diri karena memiliki racun yang ganas dan mematikan.
                Sebagai orang jawa yang sangat mementingkan watak andhap asor atau lembah manah (rendah hati), maka tidak selayaknya orang jawa memiliki watak sombong dan angkuh. Dan sebagai manusia yang mengakui bahwa hidup memerlukan orang lain, maka seseorang harus menjauhi watak menyombongkan kekuatan, kebesaran tubuh, dan kewenangannya.
                Seseorang yang memiliki kekuatan atau kemampuan fisik tidak sepatutnya berwatak sombong seperti sombongnya kijang, dan memanfaatkan kekuatan itu untuk merugikan orang lain. Demikian pula, orang yang memiliki tubuh besar tidak selayaknya meniru gambaran sombongnya gajah yang menggunakan kebesaran tubuhnya untuk memasaksakan kehendak kepada yang bertubuh kecil. Juga, tidak pada tempatnya seseorang yang memiliki kekuasaan-sehingga ucapanya dijadikan panutan dan pedoman bagi orang lain, bawahanya atau anak buah- bersikap menyombongkan diri sebagaimana watak sombong binatang ular, yang dengan racun miliknya dapat mencelakakan orang lain.
                Ungkapan adigang adigung adiguna merupakan peringatan kepada siapapun yang memiliki kelebihan (kekuatan, kedudukan, atau kekuasaan) agar tidak bersikap sewenang-wenang terhadap orang lain, apalagi terhadap orang kecil. Sebagai orang yang memiliki kekuatan, kedudukan dan kekuasaan, ia seharusnya memahami bahwa semua hal terebut adalah amanat yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, kedudukannya yang semakin tinggi, penguasaan ilmu yang semakin luas, dan kekuasaan yang semakin besar janganlah menjadikan kita semakin sombong di hadapan orang lain. Seseorang harus selalu menyadari bahwa-kekuatan yang dimiliki, kedudukan yang dicapai, kekuasaan yang melekat pada dirinya- semuanya sekedar sebagai gadhuhan (pinjaman). Yang meng-gadhuh-kan (meminjamkan) semua itu tidak lain adalah masyarakat dan Tuhan. Jika semua yang melekat pada diri kita telah diminta kembali oleh yang maha memberi pinjaman (yakni masyarakat dan Tuhan), maka status kita akan kembali menjadi manusia biasa.
                Ungkapan adigang adigung adiguna menjadi wejangan atau nasihat yang pas dan baik bagi siapapun yang sedang memiliki kekuatan, kedudukan, dan kekuasaan. Dengan wejangan atau nasihat itu diharapkan seseorang dapat memegang kendali atas dirinya sehingga tidak terpeleset pada perilaku angkuh dan sombong. Seseorang yang memiliki kedudukan (entah kedudukan sosial, kedinasan, dan sebagainya) tidak pada tempatnya menyombongkan diri. Orang yang bijak justru makin menyadari bahwa semakin tinggi kedudukannya maka akan semakin tampak kekurangan dirinya. Seorang sarjana pantas menyadari bahwa ilmunya belum sempurna. Seorang magister perlu semakin menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya. Seorang doktor pun harus merasa dirinya kecil lantaran lautan ilmu terlalu luas sementara ia hanya memahami sebagian kecil saja. Oleh sebab itu, yang lebih baik adalah meniru ilmu padi yaitu semakin tua, semakin berisi, tapi ia semakin menunduk. Artinya, semakin tua usia seorang, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar kekuasaan seseorang, seharusnya orang tersebut semakin rendah hati, suatu sikap yang dilandasi oleh keyakinan bahwa masih banyak kekurangannya.
                Peribahasa jawa adigang adigung adiguna tertulis di dalam serat wulangreh karya sunan pakubuwana IV, pujangga sekaligus raja kasunanan surakarta. Serat wejangan pakubuwana IV tersebut di sampaikan dalam dua pada (bait) tembang gambuh seperti berikut ini:
Wonten pocapanipun
Adiguna adigung adiguna
Pan adigang kidang adigung pan esti
Adiguna ula iku
Telu pisan mati sampyuh

Si kidang ambegipun
Ngendelken kebat lumpatipun
Pan si gajah ngendelkan geng ainggil
Si ula ngendelken iku
Mandine wisa yen nyakot

                Untuk menghindari watak adigang adigung adiguna, orang jawa juga dingatkan oleh ungkapan aja dumeh (jangan sok). Ungkapan yang sangat populer ini merupakan kendali agar seseorang tidak memiliki watak sombong dan sewenang-wenang. Ketika sedang mendapatkan kebaikan, janganlah sombong dan lupa diri; ketika menjadi orang pandai, jangan menyombongkan diri karena kepandaiannnya; ketika menjadi pemimpin, janganlah menyombongkan diri karena jabatannya; ketika menjadi penguasa, janganlah menyombongkan diri karena kekuasaannya; ketika kaya, janganlah menyombongkan diri karena kekayaannya; dan sebagainya. Jadi, aja dumeh (jangan sok) perlu menjadi kendali agar seseorang tidak terjebak pada perilaku menyombongkan diri lantaran menyadari bahwa kekayaan, kepandaian, kedudukan, kekuasaan, jabatan dan sebagainya itu sekedar titipan atau gadhuhan yang sewaktu-waktu akan lepas jika Tuhan menghendaki. Semua milik itu sebaiknya dipandang sebagai amanah yang harus dipertanggung jawabkan secara baik. Dengan demikian, seseorang akan tumbuh sebagai pribadi yang semakin lama semakin arif dan lembah manah (rendah hati).

Rabu, 29 April 2015

Kepribadian Guru




                Setiap guru mempunyai pribadi masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi yang mereka miliki. Ciri-ciri inilah yang membedakan seorang guru dengan guru lainnya. Kepribadian sebenarnya adalah suatu masalah yang abstrak, hanya dapat dilihat lewat penampilan, tindakan, uacapan, cara berpakaian, dan dalam menghadapi setiap persoalan. Prof. Dr. Zakiah Daradjat (1980) mengatakan bahwa kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak (ma’nawi), sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupan. Misalnya dalam tindakannya, ucapan, cara bergaul, berpakaian, dan dalam menghadapi setiap persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat.
                Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur psikis dan fisik. Dalam makna demikian, seluruh sikap dan perbuatan seseorang merupakan suatu gambaran dari gambaran dari kepribadian orang itu, asal dilakukan secara sadar. Dan perbuatan yang baik sering dikatakan bahwa seseorang itu mempunyai kepribadian yang baik atau mempunyai ahlak yang mulia. Sebaliknya, bila seseorang melakukan suatu sikap dan perbuatan yang tidak baik menurut pandangan masyarakat, maka dikatan bahwa orang itu tidak mempunyai kepribadian yang baik atau mempunyai akhlak yang tidak mulia.  Oleh karena itu, masalah kepribadian adalah suatu hal yang sangat menentukan tinggi rendahnya kewibawaan seorang guru dalam pandangan anak didik atau masyarakat. Dengan kata lain, baik tidaknya citra seorang ditentukan oleh kepribadiannya. Lebih lagi bagi seorang guru, masalah kepribadian merupakan faktor yang menentukan terhadap keberhasilan melaksanakan tugas sebagai pendidik. Kepribadian dapat menentukan apakah guru menjadi pendidik dan pembina yang baik ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat sekolah dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat remaja).
               

Senin, 27 April 2015

Pendekatan yang diharapkan dari guru




                Dalam interaksi edukatif yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah yang menggerakannya. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar. Guru ingin memberikan layanan yang terbaik kepada anak didik, dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana, sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara guru dengan anak didik.
                Ketika interaksi edukatif itu berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat dan mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. Semua kendala yang menjadi penghambat jalannya proses interaksi edukatif, baik yang berpangkal dari perilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar diri anak didik, harus dihilangkan, dan bukan membiarkannya. Karena keberhasilan interaksi edukatif lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengelola kelas.
                Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran.
                Guru yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Sebaiknya guru memandang anak didiknya sebagai makhluk individual dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran.

Guru mitra anak didik dalam kebaikan




                Di sekolah, guru adalah orang tua kedua bagi anak didik. Sebagai orang, guru harus menganggapnya sebagai anak didik, bukan menganggapnya sebagai “Peserta Didik”. Istilah peserta didik lebih pas diberikan kepada mereka yang mengikuti kegiatan-kegiatan latihan dan pendidikan yang waktunya relatif singkat, yakni sebulan atau tiga bulan atau bahkan seminggu. Misalnya seperti kursus-kursus kilat, kursus menjahit, kursus montir, kursus mengetik, latihan kepemimpinan, pendidikan jurnalistik, dan lain sebagainya dalam masyarakat.
                Penyebutan istilah anak didik lebih pas digunakan sebagai mitra guru disekolah. Guru adalah orang tua. Anak didik adalah anak. Orang tua dan anak adalah dua sosok insani yang diikat oleh tali jiwa. Belaian kasih dan sayang adalah naluri jiwa orang tua yang sangat diharapkan oleh anak, sama halnya belaian kasih dan sayang seorang guru kepada anak didiknya.
                Ketika guru hadir bersama-sama anak didik di sekolah, di dalam jiwanya seharusnya sudah tertanam niat untuk mendidik anak didik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan, mempunyai sikap dan watak yang baik, yang cakap dan terampil, bersusila dan berahlak mulia.
                Kebaikan seorang guru tercermin dari kepribadiannya dalam bersikap dan berbuat, tidak saja ketika di sekolah. Guru memang harus menyadari bahwa dirinya adalah figur yang diteladani oleh semua pihak, terutama oleh anak didiknya di sekolah. Guru adalah bapak rohani bagi anak didiknya. Hal ini berarti, bahwa guru sebagai arsitek bagi rohani anak didiknya. Kebaikan rohani anak didik tergantung dari pembinaan dan bimbingan guru. Disini tudas dan tanggung jawab guru adalah meluruskan tingkah laku dan perbuatan anak didik yang kurang baik, yang dibawanya dari lingkungan keluarga dan masyarakat.
                Pendidikan rohani untuk membentuk kepribadian anak didik lebih dipentingkan. Anak didik yang berilmu dan berketrampilan belum tentu berahlak mulia. Cukup banyak orang yang berilmu dan berketrampilan, tetapi karena tidak mempunyai ahlak yang mulia, mereka terkadang menggunakannya untuk hal-hal yang negatif. Namun demikian, bukan berarti orang yang berilmu dan berketrampilan tidak diharapkan, tetapi yang sangat diperlukan tentu saja adalah orang yang berilmu dan berketrampilan serta yang berakhlak mulia. Pembinaan anak didik mengacu pada tiga aspek di atas, yakni anak didik yang berakhlak mulia atau bersusila, cakap, dan terampil.
                Kegiatan protes belajar mengajar tidak lain adalah menanamkan sejumlah norma ke dalam jiwa anak didik. Itulah sebabnya kegiatan ini di dalam pembahasan ini di pakai istilah Proses Interaksi Edukatif. Semua norma yang diyakini mengandung kebaikan perlu di tanamkan ke dalam jiwa anak didik melalui guru dalam pengajaran. Guru dan anak didik berada dalam suatu relasi kejiwaan. Interaksi antara guru dan anak didik terjadi karena saling membutuhkan. Anak didik ingin belajar dengan menimba sejumlah ilmu dari guru dan guru ingin membina dan membimbing anak didik dengan memberikan sejumlah ilmu kepada anak didik yang membutuhkan. Keduanya mempunya kesamaan langkah dan tujuan, yakni kebaikan. Maka tepatlah bisa di katakan bahwa “Guru mitra anak didik dalam kebaikan”.

Pendekatan Edukatif (Resensi Buku Guru dan Anak didik)




                Apapun yang guru lakukan dan gunakan dalam pendidikan dan pengajaran bertujuan untuk mendidik, bukan karena motif-motif lain. Misalnya karena dendam, gengsi, karena ingin ditakuti, dan sebagainya.
                Seorang anak didik yang telah melakukan kesalahan, membuat keributan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, misalnya tidak tepat diberikan sanksi hukuman dengan cara memukul badannya hingga luka atau cidera. Jika dilakukan juga, maka tindakan itu adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan teori power, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalam mendidik, guru kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan. Karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi seorang guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial, dan norma agama.
                Guru yang hanya mengajar di kelas belum dapat menjamin terbentuknya kepribadian anak didik yang berahlak mulia. Demikian juga halnya guru yang mengambil jarak dengan anak didik. Sikap guru yang tidak mau tahu masalah yang dirasakan anak didik akan menciptakan anak yang introver (tertutup). Kerawanan hubungan guru dengan anak didik kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini menjadi kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada anak didik yang bersalah.