Senin, 01 Juni 2015

Sejarah Al-Qur’an





Artinya:
Bahwasanya Zeid bin Tsabit berkata: Abu Bakar Siddiq memanggil saya sesudah terjadi peperangan Yamamah. Dimana banyak sahabat-sahabat nabi mati syahid.
Saya dapati dihadapan beliau ada Saidina Umar bin Khatab, berkata Abu Bakar: Hai Zeid, Umar menyatakan kepada saya bahwa banyak ahli-ahli Qur'an wafat dalam peperangan Yamamah, saya khawatir kalau-kalau mereka banyak yang wafat dalam medan-medan perang yang lain, sehingga ayat-ayat Qur'an bisa hilang.
Umar mendesak kepada saya supaya mengumpulkan Qur'an dalam satu Mushaf, lalu saya berkata kepadanya: bagaimana engkau akan membuat suatu pekerjaan yang tidak dibuat oleh Rasulullah?
Umar menjawab, demi Allah. Pekerjaan ini baik ! Umar selalu mendesak saya dan akhirnya saya sependapat dengannya, kata Abu Bakar.
Berkata eid, berkata Abu Bakar kepadaku : engkau seorang pemuda pintar yang dipercaya. Engkau pada masa Nabi masih hidup menjadi penulis wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasulullah. Cobalah kumpulkan seluruh wahyu itu !
Demi Allah; Jawab Zeid. Kalau engakau perintahkan saya untuk memindahkan sebuah bukit, barang kali tidak seberat ini. Bagaimana bisa membuat sesuatu yang tidak dibuat Rasulullah?
Abu Bakar mendesak: demi Allah , ini baik. Maka selalu Abu Bakar mendesak saya;kata Zeid sehingga Tuhan membukakan hati saya sebagai hati Abu Bakar dan Umar. Maka saya carilah ayat-ayat Qur'an itu dan saya kumpulkan dimana pada mulanya terdapat ditulis di atas pelapah-pelapah tamar, batu-batu putih dan yang ada di dalam dada para sahabat-sahabat nabi. (H.S.R Imam Bukhari-lihat Fathul Bari -juz X-hal 385-390)          

Mushaf yang dikumpulkan Zeid bin Tsabit tersimpan pada Saidina Abu bakar sampai beliau wafat dan sesudah itu Mushaf ini jatuh ketangan Khalifah ke II Saidina Umar bin Khattab dan sesudah Umar bin Khattab wafat, Mushaf ini disimpan oleh Sitti Hafasah binti Saidina Umar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar