Selasa, 09 Juni 2015

Pedoman Hidup Sunan Kalijaga




                Sunan Kalijaga mengajarkan sikap narima ing pandum yang diuraikan menjadi lima sikap, yakni rela, narima, temen, sabar dan budi luhur.
a.       Rela
Orang yang memiliki sikap rela tidak mengharapkan keuntungan dari pekerjaannya. Ia juga tidak mengeluh dan merasa susah. Terhadap semua cobaan seperti sengsara, dukacita, fitnah, kehilangan harta dan sebagainya. Ia menganggapnya sebagai lumrah. Orang rila, tidak mempunyai keinginan akan penghormatan dan pujian, apalagi iri dengki. Orang bersih tidak mempunyai keterikatan dengan barang yang bersifat sementara, akan tetapi bukan berarti meninggalkan kewajiban hidup.
b.      Narima
Orang yang memiliki sikap narima tidak mengharapkan hak milik orang lain dan tidak iri dengki dengan kesenangan orang lain. Narima itu banyak pengaruhnya terhadap ketentraman hati dan bukan berarti pemalas. Apa yang sudah terpegang disyukuri dan tidak terlalu merisaukan apa yang belum didapat. Orang yang narima itu untung hidupnya, dia menang dalam perubahan zaman karena ia punya pegangan batiniah yang kuat.

c.       Temen
Temen itu bermakna setia kepada ucapanya dan memperjuangkan cita-citanya dengan sungguh-sungguh. Orang yang tidak menepati kata-kata dan idealismenya sama dengan membohongi diri sendiri. Sedangkan kata hati yang sudah di ucapkan berarti kebohongan yang di saksikan oleh orang lain.

d.      Sabar
Semua agama mengajarkan kesabaran. Tuhan mencintai orang yang bersifat sabar. Sabar berarti momot, kuat iman, luas pengetahuan dan tidak picik pandanganya. Dia bersifat segera wasesa, yang maknanya berjiwa lapang seperti lautan luas. Kesabaran daapat di ibaratkan jamu yang pahit sekali yang hanya kuat diminum oleh orang yang kukuh pribadinya. Namun jika ia kuat minum jamu itu akan membuat dirinya semakin kuat dan sehat.

e.      Budi luhur
Manusia yang berbudi luhur adalah manusia yang ideal. Budi luhur berhubungan dengan perilaku dan sifat-sifat yang dimiliki oleh Tuhan seperti penyayang, pengampun dan pemurah


                Kelima sifat itu sebenarnya bersumber dari ajaran agama Islam, yakni rela dari ridha atau ikhlas, narima dari qanaah, temen dari sifat amanah, sabar dari kata shabar, dan budi luhur adalah akhlakul karimah. Tentang budi luhur, kata “budi” berasal dari bahasa sanskerta yang berarti kemampuan, atau kecerdasan otak (intelectual faculty). Salah satu ciri satria utama adalah alus ing budi. Demikian pula budi pekerti luhur syarat untuk dikatakan sebagai manusia yang baik. Orang yang luhur ing pambudi, adalah orang yang bijaksana. Sedangkan orang asor bebudene tidak hanya orang bodoh belaka, akan tetapi juga berbahaya. Budi mempunyai arti yang luas yang meliputi seluruh pribadi manusia, yang menggambarkan individualitasnya, yang menjiwai segala aktifitasnya, sehingga menjadikan ia orang yang berbudi atau tidak berbudi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar