Senin, 21 September 2015

Beberapa tokoh yang menyoroti dan dan mengkritik Al-Ghazali:


1.       Al-‘Allamah Abu Bakar at-Tharthusyi al-Maliki. Ia menuduh Al-Ghazali sebagai orang yang meninggalkan ilmu pengetahuan dan hanyut oleh amal perbuatan, masuk ke dunia ilmu-ilmu al-khawathir (rahasia hati), terperosok ke dalam ilmu “was-was setan”. Di samping itu, pemikiran Al-Ghazali mirip dengan produk pemikiran filosof dan simbol-simbol al-Hallaj.
2.       Imam Abu Abdullah al-Mazari al-Maliki, ia berkesimpulan bahwa kitab Ihya’ Ulumuddin, karya Al-Ghazali, banyak ,memuat hadis-hadis dha’if dan membuat sesuatu yang pada hakikatnya tidak berdasar menjadi baik. Selanjutnya ia mengkritik pernyataan Al-Ghazali; “Di antara ilmu Al-Ghazali ada yang tidak sepatutnya ditulis dalam sebuah kitab”. Dikatakan pula, Al-Ghazali belajar filsafat sebelum dia mendalami ushuluddin (ilmu kalam). Oleh karenanya, dia dikalahkan oleh filsafat dan terlalu cepat menyerang hakikat.
3.       Al Hafidz Taqiyuddin Ibnu Shalah, menuduh Al-Ghazali telah memasukkan ilmu manthiq ke dalam ushul faiqh, seperti perkataan Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Mustasyfa: “inilah mukadimah (baca : pintu) semua ilmu. Siapa saja yang tidak mengetahui ilmu manthiq maka ilmunya tidak dapat dipercaya”. Ibnu Shalah menentang pernyataan Al-Ghazali itu, karena menurutnya, para sahabat dan ulama Salaf (sebelum Al-Ghazali) juga tidak mengetahui ilmu manthiq. Apakah mereka tidak berhak dipercaya, sementara dari merekalah ilmu-ilmu agama digali?

4.       Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah yang mengkritik terhadap Al-Ghazali menyangkut pena’wilan. Menurutnya, pena’wilan yang dilakukan Al-Ghazali bertentangan dengan manhaj (metode) ulama Salaf. Di dalam kitabnya, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Penulis kitab Jawahir al-Qur’an, yakni Al-Ghazali, sering mengadakan dialog dengan para filosof, sehingga dalam tulisannya, ia banyak menyadap pemikiran-pemikiran filsafat sekalipun sebagian dari pemikiran mereka ditentangnya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar